Banyak penggemar tanaman buah yang penasaran dan bertanya: apakah alpukat dapat ditanam secara hidroponik? Jawabannya “bisa”. Bahkan Anda dapat membibitkan sendiri melalui metode ini, sehingga tak harus membeli di kebun pembibitan.

Alpukat termasuk salah satu jenis buah makin banyak dicari orang. Buah ini memiliki berbagai manfaat untuk kesehatan manusia. Dalam berbagai riset, buah alpukat terbukti dapat mengurangi risiko kanker, depresi, mencegah stroke dan penyakit jantung.

Alpukat juga bisa membantu mengurangi kadar kolesterol dan kadar gula dalam darah, menjaga tekanan darah normal, dan mencegah peradangan sendi. Buah ini juga dapat melancarkan pencernaan, menjaga kesehatan mata, dan mengatasi bau nafas tak sedap.

Tanaman alpukat (Persea americana) atau avocado memiliki batang yang besar dan tinggi. Jika benihnya dari biji, tinggi batangnya bisa mencapai 20 meter. Tentu diperlukan lahan yang cukup luas.

Bahkan butuh waktu sangat lama untuk menikmati buahnya. Ya, butuh waktu 10-15 tahun! Kalau sudah berbuah, kita pasti kerepotan saat memanen. Tingginya itu lho…

Karena itu, banyak yang beralih menanam alpukat melalui perbanyakan generatif (cangkok, okulasi, dan stek). Masa panennya bisa diperpendek menjadi 5-8 tahun. Bahkan melalui teknik tertentu, buah dapat dipanen pada umur 3 tahun.

Menanam alpukat secara hidroponik dapat menjadi pilihan menarik bagi Anda. Wadah yang digunakan dalam hidroponik bervariasi. Salah satunya menggunakan wadah plastik / kaca, atau dalam beberapa hal bisa dikategorikan sebagai tabulampot (tanaman buah dalam pot).

1. Apa Itu Hidroponik ?

Hidroponik adalah teknik budidaya tanaman dengan menggunakan media air. Jadi, tidak menggunakan media tanah seperti teknik konvensional.
Tanaman memperoleh makanan dari larutan nutrisi yang ada di dalam wadah, Larutan nutrisi berisi zat-zat hara makro dan mikro yang dibutuhkan tanaman. Unsur-unsur hara itu sama seperti yang ada dalam tanah.
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menanam alpukat dengan metode hidroponik, antara lain:

  • NFT (Nutrient Film Technique) : menggunakan talang plastik sebagai media tanam, didukung rangkaian pipa paralon untuk penyaluran larutan nutrisi. Talang memiliki lubang-lubang tanam.
  • Drip System : menggunakan pipa paralon besar yang memiliki beberapa lubang tanam. Media tanam berupa arang sekam, serbuk gergaji, dan sebagainya. Larutan nutrisi disalurkan melalui pipa paralon kecil, dengan sistem penetesan.
  • Ebb and Flow System : larutan nutrisi diberikan dengan sistem pasang surut dalam jangka waktu tertentu dan bisa diprogram secara otomatis.
  • Aeroponik: tanaman tidak menempel pada media tanam, menggantung bebas, tetapi di bagian bawahnya diberi bak berisi larutan nutrisi.
  • Deep Walter Culture (Wick System): Larutan nutrisi dialirkan ke media tanam melalui bantuan sumbu (kain flannel).
  • Sistem Substrat: Media tanamnya bukan tanah maupun air, tetapi material padat seperti arang sekam, serbuk gergaji kayu, kerikil, dan sebagainya. Nutrisi diberikan dalam bentuk tetes.

Dari beberapa cara di atas, dua di antaranya paling tepat dan relatif mudah yaitu sistem wick dan sistem substrat. Kedua cara inilah yang akan dijelaskan lebih detail dalam artikel ini.

2. Syarat Tumbuh Alpukat

Sebagaimana tanaman buah lainnya, ada beberapa syarat tumbuh bagi alpukat. Namun dalam beberapa hal, syarat tumbuh ini bisa dikesampingkan jika kita menanam alpukat secara hidroponik.

a. Kondisi Lingkungan
Pada umumnya, tanaman alpukat bisa beradaptasi dalam berbagai kondisi lingkungan. Dia bisa tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi. Mulai dari kawasan dengan ketinggian 5 hingga 1.500 meter dari permukaan laut (dpl).

Tentunya jenis tanah yang sesuai untuk budidaya alpukat seperti lempung endapan, lempung liat (clay loam), ataupun lempung berpasir (sandy loam)

Tanaman ini juga memerlukan tanah gembur, tidak mudah tergenang, dan banyak mengandung zat hara makro dan mikro. Derajat keasaman (pH) tanah yang ideal untuk pertumbuhan alpukat sekitar 5,6 – 6,4. Dalam konteks penanaman di kebun, alpukat paling ideal ditaman di daerah dengan ketinggian 200-100 meter dpl. Tetapi dalam konteks hidroponik, ia bisa ditanam di daerah manapun, dalam kondisi apapun, karena tidak menggunakan media tanah.

b. Cuaca atau Iklim
Sebagai pengetahuan, suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman alpukat sekitar 12,8 – 28,3 oC. Tetapi tanaman ini masih bisa bertahan pada suhu udara 30 oC atau lebih sedikit.

Curah hujan minimum untuk pertumbuhan alpukat adalah 750-1000 mm / tahun. Angin juga diperlukan, terutama untuk proses penyerbukan. Tapi jangan terlalu kencang (lebih dari 73,6 km / jam), karena bisa mematahkan ranting dan cabang tanaman.

Tanaman alpukat juga membutuhkan sinar matahari, untuk mendukung pertumbuhannya. Paparannya sekitar 40-80% setiap hari.

Dalam penanaman secara hidroponik, kita bisa merekayasa suhu pada ruang di mana alpukat ditanam. Misalnya suhu terlalu panas, bisa diatasi dengan menyiram air ke tanah dan dinding. Bisa juga dengan memasang mesin pendingin (AC) maupun kipas angin. Kalau ditempatkan di dalam rumah, atau pada tempat yang memiliki naungan (atap), curah hujan tidak menjadi masalah. Begitu juga angin. Yang penting ruangan bisa dilalui embusan angin agar tak pengap. Selain itu, cahaya matahari juga harus bisa masuk ke dalam ruang tempat di mana alpukat ditanam.

3. Pemilihan Jenis Bibit Tabulampot Alpukat

Cara mudah memulai menanam alpukat secara hidroponik adalah menggunakan bibit varietas unggul. Di pasaran banyak tersedia bibit unggul, baik yang sudah atau belum terdaftar di Kementan RI.

Beberapa jenis alpukat varietas unggul yang terdaftar di Kementan RI antara lain: Soga (launching 2016) Moncok Mentaram, Cipedak (2015), Idola (2014), Wina Bandungan (2013), Rengganis, Raja Giri, Kendil (2011), Mentera, Sindangreret, dan Siginjai (2010).

Sebelumnya ada juga bibit unggul terdaftar dengan nama Gayo (2008), Pusako, Kedanpuan Sikka (2007), Tongar (2006), Feurtindo (2004), Mega Murapi, Mega Paninggahan, Mega Gagauan (2003), YM Lebak (2000), Ijo Bundar, dan Ijo Panjang (1987).

a. Bibit Perbanyakan Vegetatif
Bibit perbanyakan vegetatif bisa diperoleh dari pemotongan dan / atau penempelan bagian tanaman seperti batang dan cabang. Metodenya beragam, mulai dari cangkok, stek, merunduk, hingga okulasi.

Jika tidak mau repot, Anda bisa membeli bibit alpukat varietas unggul seperti dijelaskan di atas. Pilihlah bibit yang masih muda, supaya bisa ditempatkan dalam wadah kaca / plastik. Sebab kita akan menanam alpukat dengan model tabulampot – hidroponik.

Untuk tabulampot – hidroponik, bibit vegetatif jauh lebih aman. Sebab sifatnya sama seperti induknya. Jika induknya cepat berbuah, maka bibitnya pun kelak juga cepat berbuah.

b. Bibit Perbanyakan Generatif
Bibit perbanyakan generatif berasal dari hasil perkawinan antara benang sari dan putik. Hasilnya adalah biji, yang setelah besar (masak) akan terbungkus daging buah dan kulit.

Setiap biji atau benih akan mewarisi sifat-sifat dari induknya. Untuk mendapatkan bibit alpukat melalui perbanyakan generatif, ikuti langkah-langkah berikut ini:

  • Siapkan media semai. Bisa berupa gelas kaca, atau lebih praktis gelas plastik air kemasan. Boleh juga botol air kemasan ukuran 1,5 liter, kemudian dipotong dua. Ambil bagian bawahnya saja.
  • Siapkan biji alpukat yang akan disemai, bersihkan permukaannya dari sisa daging buah.
  • Amati kedua ujungnya. Ujung yang satu sempit (lancip), ujung lainnya lebih luas (tumpul).
  • Ujung tumpul merupakan tempat munculnya tunas / akar tanaman. Ujung inilah yang nantinya harus terendam dalam air.
  • Siapkan 3 lidi sepanjang 10 cm. Tusukkan lidi ke biji, posisi 2/3 dari ujung lancip. Lidi berfungsi sebagai penyangga saat biji diletakkan di bibir atas wadah (gelas / botol).
  • Letakkan biji pada bagian atas wadah, posisi lancip di atas.
  • Wadah diisi larutan bawang merah hingga merendam ujung bawah / tumpul sekitar 2-3 cm.
  • Larutan bawang merah dibuat dari 1 siung bawang merah yang diparut, kemudian dicampur dengan 1-2 gelas air. Fungsi bawang merah adalah untuk merangsang tumbuhnya akar, karena ia merupakan zat perangsang tumbuh (ZPT).
  • Biarkan biji alpukat terendam air bawang merah selama 1 hari 1 malam.
  • Setelah itu, ganti dengan air biasa untuk menghindari pembusukan. Tunggu tunas-tunas tumbuh (butuh waktu 8-10 hari).
  • Kalau sudah muncul 3-4 helai daun (sekitar umur 15-17 hari), benih bisa dipindah ke media lain, untuk ditumbuhkembangkan dengan metode hidroponik.

4. Penanaman Bibit Alpukat

Kini saatnya memindah bibit alpukat yang selesai disemai tadi ke media baru. Karena mau menggunakan metode hidroponik, kita tak membutuhkan media tanah. Jadi, tidak ada proses pengolahan tanah.

a. Persiapan Media Tanam
Media tanam yang digunakan dalam metode hidroponik bervariasi. Yang paling sering digunakan antara lain pasir, kerikil, rockwool, spons, dan hidrogel. Tetapi batu apung, arang sekam, bahkan serbuk gergaji kayu dan serbuk sabut kelapa (cocopeat) pun bisa digunakan.

Sebelum digunakan, media tanam harus distrerilkan supaya mikroorganisme pengganggu tanaman mati. Ini bisa meminimalkan potensi serangan hama dan penyakit pada tanaman alpukat.

Sterilisasi bisa dilakukan dengan berbagai metode, tergantung materialnya:

  • Jika menggunakan rockwool, spons, dan hidrogel, sterilisasi bisa dilakukan melalui penguapan (seperti dikukus).
  • Jika menggunakan kerikil dan batu apung, sterilisasi bisa menggunakan bahan kimia. Misalnya pemutih / asam hidroklorida (klorin) yang biasa digunakan untuk membersihkan kolam renang.
  • Caranya, media tanam direndam dalam klorin selama 1,5 jam. Setelah itu, bilas dengan air tawar sampai bersih, untuk menghilangkan sisa-sisa klorin.
  • Jika menggunakan pasir, serbuk gergaji kayu, atau serbuk sabut kelapa, sterilisasi menggunakan air. Cuci media tanam sampai bersih, kemudian ditiriskan dan dijemur hingga kering.
  • Untuk arang sekam, sterilisasi melalui pembakaran. Nyalakan api pada tunggu pembakar yang terbuat dari kaleng. Bagian pinggir tungku dilubangi sebagai tempat api keluar.
  • Tebar sekam ke sekeliling tungku, lalu dibakar. Kalau sudah berwarna hitam, sekam dibalik agar tak menjadi abu. Siram dengan air sampai api padam. Setelah dingin, masukkan sekam ke dalam wadah yang digunakan untuk menanam alpukat.

Dari berbagai cara hidroponik, kita mencoba yang relatif mudah, yaitu sistem wick dan sistem substrat. Wadah yang berfungsi sebagai “pot” bisa berupa toples plastik atau gelas, atau bisa juga ember. Namun jika menggunakan ember, kita tidak bisa melihat perakarannya.

# Sistem Wick
Alat dan bahan yang harus disiapkan antara lain:

  • Toples kaca / plastik, atau bisa juga botol / gelas plastik bekas air kemasan.
  • Sumbu: bisa dari kain bekas, tetapi disarankan kain flannel.
  • Larutan nutrisi
  • Media tanam (pilih yang mudah ditemukan di sekitar Anda).

Cara membuat media tanam hidroponik dengan sistem wick:

  • Siapkan wadah. Jika menggunakan botol plastik, potong menjadi dua: 1/3 bagian atas dan 2/3 bagian bawah.
  • Bagian atas, tepatnya pada leher botol, dilubangi pada kedua sisinya.
  • Masukkan sumbu melalui kedua lubang tadi.
  • Botol bagian atas dimasukkan ke botol bagian bawah dalam posisi terbalik.
  • Masukkan media tanam ke dalam botol.
  • Jika sudah terisi larutan nutrisi, bibit alpukat bisa dibenamkan dalam media tanam.

Jika menggunakan toples, atau wadah lainnya, maka harus ada wadah lain yang bisa dipasang di bagian atas / bibir toples. Wadah yang di bagian atas ini juga dilubangi dan diberi sumbu, serta menjadi tempat untuk meletakkan media tanam.

# Sistem Substrat
Metode hidroponik melalui sistem substrat ini sebenarnya mirip dengan tabulampot. Wadah yang bisa digunakan bervariasi, mulai dari pot, ember, bak, dan sebagainya.

Bedanya dengan tabulampot, media tanamnya bukan tanah maupun air. Tetapi material padat seperti dijelaskan di bagian awal, seperti arang sekam, kerikil, pasir, dan sebagainya.

Karena medianya bukan tanah, potensi tanaman terserang hama penyakit bisa ditekan. Apalagi sebelum digunakan, media tanam sudah disterilkan terlebih dulu.

Karena tanaman alpukat mempunyai bobot cukup berat, metode hidroponik substrat dinilai lebih cocok. Sebab tanaman bisa berdiri lebih kokoh ketimbang dalam sistem wick. Sistem wick masih dapat dipakai, terutama pada fase-fase awal pertumbuhan tanaman.

Kalau wadah sudah disiapkan, masukkan media tanam yang sudah steril ke dalamnya. Benamkan bibit alpukat yang sudah muncul 3-4 helai daun.

Pasang pipa paralon yang dilengkapi kran, dan posisikan kran di atas media tanam (sebaiknya tak persis di atas tanaman). Larutan nutrisi bisa diberikan tiga kali sehari: pagi, siang, dan sore hari, masing-masing 1 liter. Cara lainnya bukan menggunakan kran, tetapi model selang infus, sehingga larutan nutrisi mengalir ke media tanam secara tetes demi tetes.

b. Perkembangan Tunas Alpukat

Sejak mulai disemai, biji alpukat akan menunjukkan perkembangan pesat. Sekitar umur 1 minggu, sudah muncul tunas dan perakarannya. Umur 2 minggu, sudah muncul 3-4 helai daun.

Ketika dipindah ke media tanam hidroponik, sistem perakarannya makin pesat. Tunas pun mulai tumbuh menjadi batang. Jumlah daun makin banyak dan terus membesar.

Pada umur 1 bulan, sistem perakaran makin kuat. Ini menandakan bahwa akar-akarnya sudah mampu menyerap larutan nutrisi, baik secara langsung (sistem wick) maupun tak langsung (sistem substrat). Jika telaten dalam melakukan perawatan, tanaman alpukat pada umur 4-5 bulan sudah mencapai tinggi 50-60 cm. Pada fase ini, harapan untuk terus berkembang hingga berbuah sangat besar.

5. Perawatan Tanaman Alpukat

Perawatan tanaman alpukat model tabulampot dengan metode hidroponik relatif mudah daripada cara konvensional yang menggunakan media tanam berupa tanah.

a. Penyiraman
Salah satu kemudahan hidroponik adalah tidak perlu melakukan penyiraman. Sebab kebutuhan air bagi tanaman tercukupi setiap saat, karena sudah tersedia dalam wadah berisi larutan nutrisi.

b. Penyiangan
Dalam metode hidroponik, kita juga tidak perlu melakukan penyiangan. Sebab nyaris tidak ada gulma atau tanaman pengganggu seperti rumput liar.
Bahkan tanaman hidroponik relatif aman dari serangan hama dan penyakit. Apalagi jika wadah-wadah ditempatkan dalam ruangan yang ada naungannya, namun masih bisa terkena sinar matahari secara langsung.

c. Pemupukan
Budidaya tanaman buah secara hidroponik, termasuk alpukat, tidak memerlukan pemupukan. Sebab, fungsi pupuk sudah digantikan oleh larutan nutrisi dalam wadah.

d. Formula Larutan Nutrisi
Karena perawatannya relatif mudah, Anda bisa fokus pada ketersediaan larutan nutrisi. Larutan nutrisi bisa dibeli di toko pertanian. Kalau mau menggunakannya, tinggal baca aturan pakai saja.

Tetapi Anda juga bisa membuat sendiri. Ada dua jenis larutan / pekatan yang perlu dibuat, yaitu A dan B.

# Formula Pekatan A

  • Kalsium nitrat atau Ca(NO3) 2 — 190 gram
  • Kalium nitrat atau KNO3 — 64  gram
  • Librel BMX (bisa dibeli di toko online) — 6 gram

Cara membuatnya, masukkan semua bahan ke dalam botol air kemasan isi 1 liter. Tambahkan air hingga botol terisi penuh (1 liter). Kocok isinya, sampai semua bahan larut dan tercampur merata.

# Formula Pekatan B

  • Kalium dihidro fosfat KH2PO4 — 60 gram
  • Amonium sulfat (NH4) 2SO4 — 34 gram
  • Kalium sulfat atau K2SO4 — 32 gram
  • Magnesium sulfat atau MgSO4 — 134 gram

Cara pembuatannya sama seperti pekatan A.
Kalau mau digunakan pada tanaman, campur kedua pekatan tersebut, masing-masing dengan takaran 5 ml saja. Kedua bahan dicampur dengan 1 liter air. Aduk hingga merata dan nutrisi siap digunakan. Jika ingin membuat larutan nutrisi sebanyak 5 liter, berarti dosis pekatan masing-masing 25 ml. Begitu seterusnya. Semuanya tergantung jumlah tanaman yang ada di media tanam.

d. Pemangkasan Tanaman
Pemangkasan dilakukan terhadap cabang dan ranting yang tumbuh terlalu rapat, atau mati. Juga pada buah jika terserang hama / penyakit. Ini bisa dilakukan dua hari sekali, terutama jika tanaman alpukat sudah mulai membesar. Lakukan secara hati-hati (gunakan pisau / gunting) agar luka bekas pemangkasan terhindar dari infeksi penyakit. Sebaiknya, luka bekas pemangkasan diberi fungisida / penutup luka.

6. Keunggulan Tanaman Hidroponik Alpukat

Secara keseluruhan, banyak keunggulan tanaman hidroponik alpukat, antara lain:

a. Efisien Tempat
Tempat untuk menanam alpukat secara hidroponik bisa di mana saja. Yang penting bisa terlindungi dari air hujan, cukup sinar matahari, dan bersih. Bahkan penggunaan tempat lebih efisien, karena pot atau wadah tanaman bisa disusun bertingkat.

b. Tidak Perlu Banyak Air
Meski menggunakan metode hidroponik, tanaman alpukat tidak membutuhkan banyak air. Air itu sudah termasuk dalam larutan nutrisi yang berfungsi sebagai pupuk atau makanan.

c. Cepat Tumbuh
Perlakuan khusus melalui pemberian nutrisi terukur membuat tanaman yang dibudidayakan lebih cepat tumbuh. Apalagi jika Anda menggunakan bibit alpukat varietas unggul, yang memiliki spesifikasi lengkap mengenai masa panen.

Selain itu, metode hidroponik sangat mendukung optimalisasi pertumbuhan tanaman. Hasilnya, kualitas dan kuantitas produksi pun meningkat. Itulah berbagai informasi dan keunggulan menanam alpukat hidroponik. Apabila dijadikan bisnis, dapat memberi manfaat ekonomis. Setidaknya, hal ini bisa dijadikan hobi yang mengasyikkan.

https://gdm.id/cara-budidaya-alpukat-mentega/